Berkenalan dengan Grafiti: Street Art yang Semakin Digandrungi

Ada masanya grafiti dianggap pengganggu ketertiban umum dan perusak keindahan tembok-tembok kota di Indonesia. Tapi lain dulu lain sekarang, di era digital ini justru grafiti menjadi salah satu ekspresi utama kaum muda urban.  Karena di baliknya tersimpan kreativitas, gagasan-gagasan segar, inspirasi, dan kritik-kritik yang membangun.

 

Sumber: shutterstock

Lihat saja, selain komunitasnya yang terus muncul di berbagai kota. Kerennya seni grafiti bisa juga kita nikmati di restoran, hotel, galeri, museum, fasilitas umum, hingga adanya kampung grafiti seperti Kampung Pelangi di Semarang dan Tembok Mural Bandung.

Bagaimana seni grafiti berkembang pesat di Indonesia? Yuk simak kisah singkatnya di sini, Urbaners.

 

Perkembangan Awal

Meski sejak masa kemerdekaan sudah ada aktivitas coret-mencoret dinding, dibuktikan dengan adanya tulisan “boeng ajoe boeng” dan “merdeka ataoe mati” untuk memotivasi para pejuang, tapi grafiti dalam arti modern sebagai sebuah seni jalanan baru berkembanng pesat di Indonesia sekitar tahun 90-an.

Di Jakarta, berdasarkan penelusuran CNN Indonesia (27/10/2016), grafiti awalnya berkembang di sebuah komplek perumahan di daerah Pondok Indah, Jakarta Selatan. Di sana, saat itu banyak siswa asing asal Amerika di Jakarta Internasional School membawa seni Grafiti “American Style”,  yang kemudian diadopsi oleh anak-anak muda Indonesia. Jejak seperti ini bisa ditelusuri dari grafiti yang dekat dengan kultur musik Amerika, yaitu hiphop dengan break dance sebagai ekspresi geraknya.

Kalau kamu jeli, coba deh lihat video musik rapper Iwa K, berjudul “Bebas” (1994), Urbaners.

Di video klip itu terlihat jelas ada unsur grafiti yang dipakai sebagai visual. Seni grafiti di video tersebut ikut memeriahkan kerumunan orang bermain basket, skateboard dan musik hiphop.  Selain hiphop, grafiti juga dekat dengan musik punk dan anak skate yang juga mulai menjamur di Indonesia sejak tahun 90-an.

 

Grafiti Ala Indonesia

Pesatnya perkembangan grafiti tidak bisa lepas dari munculnya komunitas-komunitas di berbagai kota besar Indonesia. Sekitar akhir tahun 90-an, muncul nama seperti Taring Padi (1997), komunitas independen seni rupa yang menyuarakan isu kerakyatan di Yogyakarta. Mereka menggunakan medium jalan sebagai ekpresinya dengan menempel poster-poster di berbagai sudut kota. Lalu ada juga Apotik Komik (1998) yang awalnya merupakan komunitas komik sebagai media ekspresi, tapi kemudian menggunakan teknik mural yang ditempatkan di ruang publik secara legal.

Tahun 2000-an awal, seni grafiti tak terbendung. Nama-nama tenar street artist, sebut saja  Darbotz, Tuts, Grompol, Aram, Stereoflow dan Shake dari FAB Family, muncul dengan berbagai ciri khasnya.

 

Darbotz, salah satu seniman grafiti Indonesia yang terkemuka.

Sumber: GNFI

Menurut Riksa Afiaty, pengamat sekaligus kurator seni jalanan, bahwa pesatnya perkembangan grafiti tidak bisa terlepas dari adanya situs tembokbomber.com, sebagai website komunitas street art yang dibentuk untuk wadah diskusi, dokumentasi karya, pembahasan teknik, hingga berita seni dari grafiti dunia yang didirikan oleh para street artist tahun 2004. Dari sebagai milis komunitas inilah, para seniman jalanan yang tergabung dalam tembokbomber.com mulai sering “kopdar” dan mengadakan pameran.

Dimulai dari momentum tersebut, graffiti jadi gerakan seni kolektif, Urbaners. Berkembang di kota-kota besar lalu menyebar ke kota-kota lain di Indonesia. Bahkan kini, grafiti menjadi salah satu identitas utama anak muda perkotaan sebagai wadah ekspresi untuk meyuarakan pendapat dan gagasan. Tidak hanya itu, dari sisi estetis grafiti juga mampu mempercantik lanskap kota. Membuatnya lebih nyeni dengan goresan cat semprot (spray paint) yang mewujud dalam gambar atau tulisan yang keren banget.