Fixed-Gear Bicycle: Tenggelam Lalu Bangkit Lagi

Sumber: shutterstock 

Sempat booming sekitar tahun 2010-2012, sepeda fixie lalu tenggelam dan seakan dilupakan oleh anak muda dan kaum urban. Tapi baru-baru ini fixed-gear bicycle kembali diminati karena sensasi berbeda yang ditawarkannya. Lebih ringan, dinamis, dan menantang karena mengandalkan 'tubuh', yaitu presisi kaki dalam mengerem dan keseimbangan.

Bagaimana sepeda yang dikenal juga sebagai sepeda fixie ini hype kembali? Yuk, simak bersama kisahnya, Urbaners.

 

Tenggelam dan Ditinggalkan

Sekitar tahun 2010 hingga 2012 saat puncak booming-nya fixie, hampir setiap car free day selalu disesaki anak-anak muda yang mengendarai sepeda berwarna-warni, ramping, dan tanpa rem tangan tersebut. Di Jakarta, tepatnya di sekitar Bundaran HI dan Sudirman-Thamrin, setiap minggu selalu ramai sebab anak-anak muda yang bersepeda pixie di sini pixie tak hanya berasal dari Jakarta tapi juga dari luar Jakarta. Sebut saja Depok, Bogor, Tangerang bahkan Bandung.

Seiring berjalannya waktu Bundaran HI pun semakin kosong. Sudah tidak ada lagi keramaian anak-anak muda melakukan atraksinya dengan fixie. Mengapa hal ini terjadi?

 

Car free day Tahrin-Sudirman saat sepeda fixe masih menjadi tren tahun 2011.

Sumber: SerbaSepeda.com

Berdasarkan amatan Kompas dalam “Bike Messenger Kepada Sepeda Mereka Percaya” (2016), turunnya minat terhadap fixie boleh jadi disebabkan perubahan tren yang sangat cepat di kehidupan anak muda perkotaan. Ditambahkan oleh Hendi Rahmat, salah satu pengamat perkembangan fixie sekaligus pendiri jasa kurir fixie bernama Westbike Messenger Service, “Tenggelamnya fixie disebabkan banyak orang hanya ikut-ikutan tren, sehingga setelah ada tren baru di bidang lain, mereka pindah ke yang itu.”

Menurutnya hanya segelintir yang bertahan. Tak pelak hal ini juga menyebabkan toko-toko suku cadang fixie yang sempat menjadi bisnis menggiurkan, gulung tikar karena kehilangan pembeli.

 

Bangkit dengan Spirit Baru

Jika dulu bersepeda fixie hanya sekadar hobi, sekarang posisinya lebih powerful, Urbaners. Soalnya, bermain sepeda fixie sekarang bisa jadi profesi yang menghasilkan. Bahkan fixie sudah memiliki kejuaraan berskala internasionalnya sendiri, lho, keren kan?

Dari sisi profesi misalnya. Kamu tahu dong film Premium Rush yang bercerita tentang kurir sepeda di kota New York, Urbaners. Nah, ternyata hal itu juga sudah ada di Indonesia, di mana para komunitas fixie saat ini mendirikan jasa kurir atau pengiriman paket.

Pengiriman paket dengan fixie bisa lebih cepat sampai karena bisa menghindari kemacetan menurut Hendi Rahmat, pendiri pendiri jasa kurir fixie bernama Westbike Messenger Service yang berbasis di Jakarta. Perkembangan baru ini mendorong bisnis jenis serupa muncul di kota-kota lain selain Jakarta.

 

Westbike Messenger Service, salah satu komunitas pecinta fixie yang bertransformasi menjadi jasa kurir.

Lalu dari sisi kompetisi, sepeda fixie pun sudah memiliki ajang kejuaraannya tersendiri yang bernama HolyCrit. Diselenggarakan pertama tahun 2013, ajang lomba berskala internasional yang digagas oleh Erik Koo dan Zulkifli Awab asal Singapura ini cukup berperan menumbuhkan kembali antusiasme terhadap sepeda fixie di Tanah Air. Buktinya, pada pagelaran terbaru yang diadakan Desember 2017 di Malaysia dan Singapura, ada dua komunitas fixie asal Indonesia yang berpartisipasi, yaitu West Bike Messenger dan Bidonesia.

 

Balapan di IFD 2017, Kemayoran, Jakarta.

Sumber: MLDSpot.com

Tanda-tanda meningkatnya minat terhadap fixie juga bisa terlihat dari suksenya komunitas fixie Indonesia dalam menyelenggarakan Indonesia Fixed Day 2017 (IFD 2017), Oktober 2017 lalu. Acara yang sudah digelar untuk kedua kalinya ini bahkan dihadiri komunitas sepeda fixie dari Singapura dan Malaysia. Secara garis besar IFD 2017 meliputi lomba antara komunitas fixie dan wadah silaturahmi para pecintanya.

Setelah membaca uraian di atas, sudah siap nih “gowes” di tengah kota dan memacu adrenalin dengan sepeda tanpa rem tangan, Urbaners?